Minggu, 13 Februari 2011

Stop publicity stunt for promoting a film

Di suatu pagi, saya bangun sekitar pukul 06.30. Seperti pagi-pagi biasanya, begitu bangun pagi saya langsung menyalakan televisi dan menonton infotainment di sebuah stasiun televisi swasta. Begitu infotainment itu dimulai, muncullah ringkasan-ringkasan gosip yang akan ditayangkan(Ya ampun, keliatan banget ya saya suka nonton gosip di pagi hari). Sambil setegah nyawa karena masih merem melek, saya mendengarkan ringkasan gosip itu. Saya yang biasanya hanya dalam hitungan menit langsung merem lagi malah terpaku pada salah satu gosip “Bella Saphira berseteru dengan Andi Soraya di lokasi syuting karena berebut peran utama”. Tadinya saya biasa saja, tapi saya jadi ingat sebuah banner di bioskop 21 Jatos. Banner itu adalah banner film “Arisan Brondong” yang juga dibintangi oleh Bella Saphira dan Andi Soraya.
Kemudian saya (dengan niatnya) menunggu sampai gosip itu ditayangkan dan menyimaknya. Ya ampun, ternyata setelah didenger-denger (karena saat itu mata saya masih tak kuat melek alias ngantuk makanya saya cuma bisa dengerin) gosipnya sepele banget. Gosip sepele yang dibesar-besarkan, itu menurut saya. Toh Bella Saphira juga menanggapinya biasa aja sebagai suatu hal yang biasa kalo ada perseteruan di lokasi syuting.
Saya pun membatin, ah lagi-lagi cuma publicity stunt buat mempromosikan sebuah film. “Publicity is a planned event designed to attract the attention to the organizers or their cause. Publicity stunts can be professionally organized or set up by amateur” begitu kata wikipedia.org.
Yah, tujuannya sih apalagi kalo bukan untuk menaikkan popularitas atau ketenaran tuh film. Intinya mah mau menciptakan pro-kontra biar masyarakat penasaran. Saya jadi berpikir, ternyata banyak film di Indonesia yang berpromosi dengan cara publicity stunt. Sedikit di antaranya:
1. Dewi Persik vs Andi Soraya yang berseteru hanya karena Andi Soraya mengejek pakaian Dewi Perssik saat syuting yang berbuntut pada saling ejek di media. Kasus yang diduga bentuk promosi film “Kutunggu Jandamu”ini berakhir bahagia dan mereka saling bermaafan.
2. Saiful Jamil vs Kiki Fatmala yang berseteru karena merasa dilecehkan Saiful Jamil yang melakukan perbuatan tidak senonoh waktu syuting. Kuat dugaan isu ini digunakan agar film “Pijat Atas Tekan Bawah” yang mereka bintangi jadi sorotan karena sehari sebelum launching film itu mereka berdamai dengan bersalaman di depan publik.
3. Luna Maya vs Aura Kasih yang digosipkan berebut Ariel Peterpan. Aura Kasih diduga sebagai orang ketiga di tengah hubungan Luna Maya-Ariel yang berbuntut pada marahnya Luna Maya di hadapan wartawan. Peristiwa ini diduga bentuk promosi film “Asmara Dua Diana” yang dibintangi Luna Maya dan Aura Kasih. Kasus itu pun menguap dengan sendirinya.
Melihat bentuk promosi itu saya jadi miris kok para kreator film pada mempromosikan filmnya dengan cara seperti itu. Padahal, kalo menurut seminar distribusi film yang pernah saya ikuti (hehehe, ternyata saya pernah mengiikuti seminar film yang berbobot juga), biaya promosi film itu seharusnya lebih besar daripada biaya produksi. Yah, minimal sama lah biayanya. Tapi kalo pake publicity stunt kan murah meriah. Tinggal bikin gosip (dan biasanya gosipnya aneh dan keliatan dibuat-buat)trus di blow-up aja di media.
Saiful Jamil & Kiki Fatmala berdamai (Doc: Nova)
Tapi setelah dipikir-pikir lebih dalam, film-film yang pake publicity stunt bisa diliat sendiri lah kualitas filmnya kayak gimana. Makanya nggak heran kalo mereka pake cara yang ngga elegan itu buat promosi filmnya.
Yah, kita sebagai calon-calon sineas Indonesia (Amin Ya Allah) yang udah pernah belajar sinematografi dan tetek bengeknya itu janganlah mempromosikan film pake cara-cara yang nggak elegan seperti ini. Pikirkanlah matang-matang proses promosi film yang elegan. Saya tahu, pasti kita semua bisa jadi sineas yang hebat walaupun cuma dalam skala kecil.
Hidup sineas Indonesia yang berkualitas!!!