Kamis, 22 September 2011

Informasi dan Inspirasi Secepat Kedipan Mata


Semua orang ingin sukses. Hal itu saya yakin mutlak diingini oleh semua orang. Bahkan menjadi sukses pun telah masuk ke dalam cita-cita saya. Baik itu sukses dalam arti yang luas ataupun sukses yang semua orang ingini yaitu sukses secara finansial.

Untuk menjadi sukses saya butuh inspirasi. Untuk memeroleh inspirasi, saya butuh membaca. Bacaan yang berkualitas akan menentukan bagaimana pola pikir kita dibangun, paling tidak itu menurut saya. Saya butuh bacaan yang berkualitas dan inspiratif untuk menjadi sukses pastinya. Ibarat seorang gadis remaja, saya pun jatuh cinta pada pandangan pertama pada artikel-artikel CEO Talk di http://executive.kontan.co.id/v2/ceo_talk.  Saya yang tadinya sempat ‘alergi’ dengan bacaan-bacaan berbau ekonomi justru kini sangat tertarik. Padahal sebelumnya saya menganggap bahwa artikel-artikel atau berita-berita ekonomi akan penuh dengan istilah memusingkan yang justru membuat saya stress saat membacanya. Tetapi di sini justru tidak. Saya menemukan satu hal: inspirasi.

Membaca CEO Talk paling tidak membantu saya membuka mata bagaimana seorang besar atau pemimpin bertindak dan mengambil keputusan. Kisah mereka sangat inspiratif dan dikisahkan dengan bahasa yang mudah dipahami serta jauh dari kata-kata ‘supercanggih’ yang akan membuat jidat saya berkerut gara-gara tak tahu arti kata yang dipakai dalam tulisan. Apalagi para CEO ini berasal dari latar belakang perusahaan yang besar dan tentunya berbeda. Pemilihan sumber beritanya tak sembarangan tentunya. Dari artikel-artikel CEO Talk inilah saya mengambil banyak pelajaran, paling tidak belajar untuk menjadi pemimpin dan bisa mengambil keputusan dalam lingkup terkecil, diri sendiri. Dan dari sini pula saya bisa tidak alergi untuk membaca segala informasi yang berkaitan dengan ekonomi. 

Maka saya jatuh cinta pula dengan www.kontan.co.id. Belajar tidak ‘alergi’ dengan tulisan berbau ekonomi. Dalam benak saya masih tertanam, inspirasi datang salah satunya dari bacaan berkualitas. Dan bacaan berkualitas itu ada di depan saya, datang melalui Kontan dan saya pun tak boleh menyiakannya. Yang membuat saya merasa ‘dimudahkan’ adalah variatifnya menu atau kategori untuk mencari tulisan apa yang memang saya kehendaki. Tinggal sekali klik melalui tetikus.

Saya pun semakin cinta dengan Kontan pada artikel-artikel Peluang Usaha di link http://peluangusaha.kontan.co.id/. Saya memang bercita-cita menjadi pengusaha dan dari sinilah inspirasi-inspirasi saya muncul. Ulasan berbagai usaha khususnya usaha kecil danmenengah yang unik adalah bagian yang paling saya sukai. Di bagian ini, Kontan selalu bisa menemukan sumber berita yang unik dan membuat tulisan yang membuat saya lagi-lagi jatuh cinta.

Selain memberikan inspirasi, kemudahan aksesibilitas Kontan pun membuat saya yang akhirnya merasa haus akan berita dan artikel ekonomi menjadi terpenuhi. Epaper.kontan.co.id paling tidak membantu saya untuk tidak perlu repot-repot mencari tukang koran atau gigit jari karena kehabisan Kontan. Hanya menghadap laptop dengan koneksi internet maka saya bisa menikmati berbagai ‘inspirasi’ di dalamnya. Mudah, murah, praktis, dan cepat. 

Era konvergensi media ini memang dimanfaatkan benar oleh Kontan untuk melayani para pembacanya yang memang butuh bacaan berkualitas dan tentunya up to date. Adanya fasilitas  kontan.co.id, Kontan Mobile, Kontan e-Paper, bahkan Kontan iPad paling tidak turut membantu distribusi informasi dan inspirasi tentunya. Dan kemudahan akses inilah yang akhirnya membuat orang-orang, termasuk saya menikmati informasi dan mendulang inspirasi secara cepat. Kalau boleh saya bilang, secepat kedipan mata maka informasi baru bisa ter-up date.

Maka kini untuk orang-orang yang haus akan informasi bermutu dan inspirasi, tak perlu merasa kalah dengan waktu. Butuh informasi tak harus repot, cukup buka saja www.kontan.co.id maka akan banyak informasi bermutu dan inspirasi yang bisa Anda dulang dari sana.

Terimakasih Kontan, paling tidak membuat saya menjadi manusia yang sedikit lebih maju dan terbuka dalam berpikir. Untung baca Kontan!

Sabtu, 13 Agustus 2011

Angela Angel

"Kamu punya keinginan apa, Angela?" ujar malaikat sambil mengayun-ayunkan tongkatnya.
"Aku punya satu keinginan!" Angela girang.
"Sebutkan! siapa tahu aku bisa membantumu."
"Aku ingin seorang kakak laki-laki. Dari dulu aku menginginkannya. Aku ingin dilindungi,"Angela sangat girang.
Malaikat mengernyitkan dahi. "Aku tak bisa memenuhinya,"ujar malaikat.
Angela mengernyitkan dahi. Mukanya berubah muram. Malaikat tersenyum "Aku tak bisa memberimu seorang kakak laki-laki, tapi kamu akan memiliki banyak teman laki-laki."
Angela tersenyum :)

Sabtu, 16 Juli 2011

Gojeg, Harmonisasi Suara di Antara Pukulan Lesung

Tuk..tak..tuktaktuktaktuktak...tuktaktuktaktuktaktuktak..


Jangan dikira itu suara sepatu kuda ya. Tapi itu adalah ilustrasi dari suara gojeg lesung. Hmm..apa kira-kira gojeg lesung ini ya?


Masih banyakkah orang yang sampai saat ini mengenal kesenian gojeg lesung? Mungkin hanya hitungan jari jumlah orang-orang yang masih tahu dan mengenal kesenian yang satu ini. Bahkan mungkin saja yang tahu hanya dari kalangan mereka yang memang sudah sepuh.


Gojeg lesung adalah tradisi menabuh lesung yang dilakukan oleh beberapa orang sehingga membentuk suatu irama dan nada yang enak dan bisa dinikmati. Gojeg lesung ini biasanya dimainkan pada saat panen atau sebelum acara mantu pertama. Di daerah saya sendiri (Kutoarjo, Kab. Purworejo) tradisi ini biasanya dimainkan beberapa hari sebelum seseorang punya hajatan menikahkan untuk yang pertama kalinya atau mantu pertama.
suasana gojeg lesung
Gojeg berasal dari bahasa jawa yaitu gojegan yang berarti bercanda. Mungkin filosofi dari tradisi ini adalah menabuh lesung bersama-sama sambil bercanda untuk mengakrabkan satu sama lain orang-orang. Selain itu, suara musik yang dihasilkan dari lesung pun sangat meriah seperti halnya sebuah candaan. Ada mitos lain yang tersimpan dari tradisi ini. Kata ibu saya, orang-orang zaman dahulu mengadakan gojeg lesung sebelum mantu agar telinga anak-anak mereka tidak budeg. Entah mengapa mitos ini yang beredar. Saya memahami mungkin saja gojeg lesung dilakukan agar kelak ketika anak mereka telah menikah maka tidak akan mbudeg informasi yang berarti kelak diharapkan sang anak bisa tetap peka terhadap keadaan.


Gojeg lesung biasanyua diikuti oleh 5-8 orang dengan masing-masing memiliki nada pukulan sendiri di tempat yang berbeda-beda pada lesung. Tradisi ini biasanya diikuti oleh berbagai usia. Tua muda semuanya bercampur menjadi satu memukul lesung untuk mendapatkan bunyi-bunyian yang enak didengar.

Alat yang digunakan sederhana, hanya beberapa alu dan sebuah lesung. Lesung berasal dari kayu panjang lebih tepatnya batang pohon yang memiliki beberapa lubang sehingga bisa menghasilkan bunyi.
Lesung dan alu untuk gojeg
Tradisi ini semakin lama semakin jarang kita temui, bahkan di desa-desa sekalipun. Gojeg yang biasanya digunakan untuk ngayu pitu saat menjelang pernikahan kini diganti dengan acara pengajian. Sudah sangat jarang orang yang melakukan gojeg, apalagi alatnya pun kini semakin susah didapatkan.


Jika melihat atau menemui tradisi ini, sesekali cobalah untuk ikut memukul. Kelihatannya memang mudah namun ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Salah tempo atau ketukan sedikit bisa-bisa membubarkan  harmoni musiknya. Maka tak jarang banyak gelak tawa yang tercipta ketika sang pemain sudah lelah dan tak sanggup mengimbangi yang lainnya. Jadi saja si irama lari kesana-kemari.


Semoga saja masih banyak orang yang melestarikan tradisi ini. Ya, walaupun tradisi yang sederhana tapi tetap saja harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Kamis, 14 Juli 2011

Dimana Seharusnya Kita Menempatkan Rasa Malu?

Sering sekali ketika datang ke undangan baik itu rapat, pertemuan, atau pernikahan, saya melihat segerombolan ibu-ibu yang datang dan mengambil kursi tidak di deretan yang paling depan. "Malu ah depan sendiri," ujarnya.

Lain lagi ketika saya berbelanja dengan seorang teman, ketika saya tawari hanya masuk toko tersebut, melihat-lihat, atau bahkan sekedar mencoba barang-barangnya ia pun berkata "Malu ah kalo nggak beli."


Atau lain lagi dengan seorang sarjana yang ditawari untuk membuka usaha dagang karena memang lapangan kerja yang sedikit. "Malu ah, sarjana masak jualan."

Dimana kita seharusnya menempatkan rasa malu?

Baiklah, mari kita lihat dari asal katanya terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online kata "malu" berarti 1. merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb); 2. segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb; 3. kurang senang (rendah, hina, dsb). Jika melihat dari arti katanya, kata "malu" seharusnya kita gunakan apabila kita telah melakukan sebuah kesalahan.

Namun, di zaman sekarang justru orang-orang, entah bisa disebut dengan salah kaprah atau salah menempatkan, kata "malu" dalam suatu konteks. Seperti contoh pertama yang saya sebutkan tadi. Sekarang banyak sekali orang-orang yang enggan duduk di depan karena malu. Apa yang membuat mereka malu? Jika mereka telah melakukan kesalahan bolehlah mereka malu. Mungkin bukan "malu" yang tepat bagi mereka, tetapi "minder" itu lebih tepat dipasangkan dengan keadaan yang seperti itu.

Dan di contoh yang kedua kenapa orang-orang harus malu ketika hanya window shopping? Tak ada salahnya dengan keluar masuk toko dan hanya melihat atau sekedar mencoba barang yang dipajang di etalase karena pemilik toko pasti memajangnya untuk konsumen. Kita seharusnya malu kalau mencuri barang di toko itu. Kalau kita jujur, masuk toko hanya sekedar melihat dan keluar lagi dengan tangan kosong karena memang tak ada barang yang cocok dibeli, kenapa harus malu?


Contoh ketiga sering sekali kita jumpai. Banyak orang berpendidikan tinggi tapi mereka malu ketika ditawari untuk membuka usaha dengan cara jualan. Malu disini adalah pengganti kata gengsi. Mereka justru seharusnya malu kalau menambah beban pengangguran, dan seharusnya tambah malu lagi ketika menaikkan angka kriminalitas dengan cara berbuat jahat misalnya mencuri atau menipu. Rasa "malu" yang mereka bawa justru akan terus membebani mereka dan membuat mereka tidak berpikiran maju.

Dan sekarang lihatlah banyak orang yang salah menempatkan rasa malu. Lihatlah banyak orang korupsi tetapi mereka tidak malu melakukannya, malahan bangga. Atau ada orang atau sebuah keluarga yang bangga dengan harta hasil KKN. Atau ada orang yang bangga sebagai pegawai negeri dan punya kedudukan tinggi, namun untuk masuk PNS saja dia menyuap sekian juta. Atau orang yang bangga belanja kesana kemari tapi duitnya hutang. Yang seperti ini yang harusnya malu. Namun justru sekarang orang-orang yang seperti inilah yang tidak lagi punya rasa malu.

"Akan susah sebuah bangsa jika penduduknya salah menempatkan rasa malu" 

Keadaan yang seharusnya dihadapi tidak dengan rasa malu malah sebaliknya. Malu karena mereka minder. Apa yang membuat malu jika memang kita bisa? Mungkin banyak orang di negeri ini telah mengalami degradasi rasa percaya diri atau pede. Mereka hanya pede jika di depan kamera. Tetapi untuk memasyarakatkan diri dan pikiran mereka justru tidak pede. 

Yang lebih miris adalah jika rasa malu itu hilang dan tergantikan dengan rasa "tak lagi punya malu" ketika seseorang berbangga dengan kesalahannya, dengan apa yang dimiliki padahal itu bukan haknya, dengan kebodohannya. Seharusnya yang seperti ini yang bisa kita sebut dengan rasa malu. Bukan malah bangga dengan kesalahan.

Jangan menyepelekan rasa malu, karena rasa inilah yang akan membuat kita belajar. Bangsa ini tak akan bisa maju jika masih belum bisa menempatkan rasa malu dengan tepat. Dan jika hal ini terus menerus dibiarkan maka sebuah bangsa justru akan tumbuh menjadi bangsa yang minder dan tak akan pernah belajar dari kesalahan. 

Seharusnya kita malu jika berbuat kesalahan, paling tidak malu sama Tuhan dan hati nurani kita sendiri. 

Minggu, 10 Juli 2011

Terima Kasih Tuhan Atas Lelaki yang Tidak Sempurna (part 2)

Banyak kriteria yang harus dilewati untuk menjadi pacar saya. Saya orang yang cukup selektif dalam memilih pacar. Ini urusan hati dan masa depan bung! Jadi saya harus benar-benar selektif. Saya bukan orang yang main-main untuk urusan pacaran. Secara fisik, saya tidak pernah memberi patokan untuk pria harus yang setampan malaikat. Tapi secara hati, dia harus berjiwa malaikat. :)

Pacar saya tidak ganteng, tapi dia hebat. Dialah yang berhasil untuk melewati kriteria yang saya punyai. Tidak semuanya memang tapi saya melihat akan bisa terlewati semua kriteria itu di masa depan.

Saya bangga dengan pacar saya. Biar orang berkata apa. Tapi dia pria yang hebat, yah walaupun terkadang suka kekanak-kanakan. Tapi dia bisa mengakomodir sifat-sifat saya dan memberikan rasa nyaman pada saya. Dialah pria yang memberikan keseriusan pada saya dan semoga akan selalu seperti itu, di saat banyak pria di luar sana yang sangat takut dan menunda sebuah komitmen. Mungkin saya orang yang sangat beruntung bertemu dan memilikinya.

Saya tidak pernah merahasiakan status saya. Yes, i'm in relationship. Setiap bertemu dengan orang baru saya selalu bangga dengan status saya, di saat banyak teman saya yang sering merahasiakan statusnya dengan alasan untuk flirting  dengan orang lain. Saya tak ada lagi alasan untuk flirting. Itu yang saya tanamkan dalam diri saya karena saya ragu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dia. Saya bangga untuk memperkenalkan pacar saya, dengan pekerjaannya, dengan kegiatan sehari-harinya, dengan semua yang dia lakukan pada saya, dan dengan karya-karyanya.

Dia yang juga CEO Trackpacking, telah berhasil track-in di hati saya walaupun dia sama sekali tidak bisa membuat peta itu dalam sebuah web internet :p dan mungkin dia juga yang menularkan virus menggombal itu pada saya. :D

Dia lelaki yang berbicara "nanti gimana" bukan "gimana nanti" karena sesungguhnya saya adalah seorang perempuan, yang secara kodrati memang butuh sebuah kemapanan untuk masa depan. Ini pula yang mungkin dialami oleh perempuan-perempuan lainnya di dunia ini. Ini bukan masalah materi tetapi ini adalah masalah kerja keras. Toh, rejeki itu di tangan Tuhan. Tetapi kerja kerasnya yang membuat saya mengacungkan jempol padanya. Dan semoga sayalah yang menjadi cahaya semangat dan pompa inspirasinya untuk terus menghasilkan karya dan kerja keras.

Saya bangga pada dia apapun yang orang katakan tentangnya. Dialah si lelaki hebat itu. Semoga saya bisa menyempurnakan hidupnya, tetap menjadi cahaya semangat dan inspirasi baginya dan semoga Tuhan yang memilih saya untuk mendampingi hidupnya.

hope it'll be everlasting love :)
Dia memang lelaki biasa tetapi dia adalah lelaki yang bisa mencintai dengan cara yang luar biasa. Membangun hidup saya untuk menjadi hampir sempurna. Terima kasih Tuhan atas lelaki yang tidak sempurna yang membuat saya tahu tentang arti kesempurnaan. :)

Terima Kasih Tuhan Atas Lelaki yang Tidak Sempurna (part 1)

Siapa dia yang kurang lebih 2,5 tahun lalu menghampiri saya? Saya tahu? Pastinya tahu sekali. Dia bukan siapa-siapa. Dia orang yang saya kenal sekali. Bahkan dari sebelum saya bertemu lagi dengan dia. 

Dan ketika saya bertemu kembali, tidak ada rasa. Hanya biasa. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin sama, mungkin juga berbeda dengan saya. Namun saya tidak pernah membayangkan bahwa akan menjalani hubungan bertahun-tahun dengannya. Hubungan yang tidak biasa. Hubungan yang sangat menguras emosi.

Dia, Kurniawan Aji Saputra, orang yang sangat saya kenal, sebagai teman lama. Dia teman SMP saya. Tidak pernah terbersit dalam hati saya akan berpacaran dengan orang ini, lama dan sangat lama karena dengannya saya melewati masa pacaran yang paling lama. Mungkin saya kemakan omongan dan sumpah serapah saya sendiri bahwa saya tidak akan pernah mau berpacaran dengan teman saya. Tapi sekarang? Nyata-nyata ini teman saya.

Dia datang sekitar tiga tahun yang lalu yang saya tanggapi tidak dengan rasa apa-apa karena saya saat itu tengah menjadi perempuan yang (sok) feminis karena kegagalan cinta yang berkali-kali dan menyebabkan sangat malas untuk berpacaran. Cinta bersemi dari reuni. Pepatah itu mungkin yang bisa menggambarkan darimana hubungan kami berawal. Dari reuni sekolah, SMP lebih tepatnya. Saya tidak tahu, dia yang merancang reuni itu entah karena memang kangen sama teman-teman atau memang (geernya saya) dia mau bertemu saya di acara itu. Entahlah..

Kalo saya flashback ke masa lalau, mungkin saya bukan siapa-siapa di mata dia. Siapa saya waktu SMP? ABG labil nan bandel di kelas yang mungkin justru membuat cowok-cowok pada illfeel. Namun seiring berjalannya waktu, itik buruk rupa bisa menjadi angsa yang sangat cantik. Bahkan ulat bulu yang sangat menjijikkan pun akan menjadi kupu-kupu yang indah. Mungkin dulu dia tidak pernah melihat saya karena saking bandelnya saya di sekolah. Tapi kini saya bisa menaklukan hatinya. :)

bunga pertama dr pacar saya
Terima kasih Tuhan telah memberikan saya pria yang tidak sempurna sehingga saya bisa melihat arti kesempurnaan. Semoga memang dia yang Engkau kirim untuk menyempurnakan hidup saya dan saya akan menjadi wanita yang menyempurnakan hidupnya. (To be continued)


Sabtu, 02 Juli 2011

Carita Punya Cerita

Ini bukan kali pertama saya datang ke Pantai Carita, pantai yang sebenarnya sangat biasa untuk saya. Namun, selalu ada cerita luar biasa dari Carita.

Ini adalah kali kedua saya jalan-jalan ke pantai bersama pacar saya. Dan ini juga kali kedua saya menginjakkan Pantai Carita setelah sebelumnya saya pernah kesana dalam rangka malam keakraban adik kelas di jurusan saya. Perjalanan kali ini merupakan hadiah dari pacar saya karena saya sudah berhasil menjadi sarjana. Hadiah yang menggantikan jalan-jalan ke sebuah pulau dengan pemandangan pantai, karena memang waktunya yang sangat susah dan yang pasti kali ini lebih kekeluargaan dan pastinya murah meriah.

Kali ini saya ke Carita tidak hanya berdua, melainkan satu bisa dengan orang-orang yang baru saya kenal. Lebih tepatnya lagi adalah teman-teman arisan pacar saya (agak aneh memang, pacar saya yang notabene laki-laki tapi doyan arisan, mudah-mudahan dia tidak seperti Sakti :p). Orang-orang yang di dalamnya tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Namun, ada keceriaan sendiri tatkala saya berpiknik bersama orang-orang yang kebanyakan sudah berkeluarga ini. 

Awal perjalanan diisi dengan karaoke bersama di dalam bis, tentunya dengan berbagai macam genre lagu dari pop, campur sari, dangdut, hingga tembang nostalgia. Lalu ada acara kocok doorprize (kalo yang ini jelas arisan banget). Dan singkat cerita kami pun sampai di Carita, lebih tepatnya lagi di Pantai Pasir Putih (walaupun warna pasirnya sebenarnya bukan putih) dengan menempuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan.

Layaknya wisata keluarga pasti diawali dengan acara gelar tikar dan makan bersama. Selanjutnya acara bebas dan saya memilih untuk naik banana boat dengan harga Rp 10.000. Harga yang cukup bersahabat untuk wisata keluarga, mengingat harga banana boat di sebuah pantai yang sebelumnya saya kunjungi bisa empat kali lipat dari harga disini. Sayang momen naik banana boat dan berenang melihat karang-karang di pulau tengah laut (kalo untuk singgah di pulau ini, wisatawan harus nambah Rp 5000) ini tidak diabadikan dengan foto karena pacar saya yang diajak mengabadikan ternyata tidak mau karena saya tahu dia takut air. Sayang sekali sih memang, tapi nggak mengurangi keasikan tim banana boat kami buat bersenang-senang. Saking ketagihannya buat diceburin di tengah laut, malahan ada seorang anggota tim yang menceburkan diri dan ketinggalan di tengah laut. Agak nggak kompak sih ato mungkin dia memang ketagihan diceburin ke tengah laut, haha.

Yang namanya wisata keluarga pastilah harus murah. Selesai main banana boat, saya menyewa sebuah ban besar hanya dengan harga Rp 5000 untuk bermain sepuasnya di pantai. Ya itung-itung menyegarkan diri dengan bermain sama ombak dan menikmati panasnya matahari. Walaupun harus dengan resiko badan dan muka saya yang hitam. Tapi tak apalah yang penting eksotis pembelaan diri :p).

Setelah sekitar tiga jam bermain di pantai (walaupun sebenarnya masih kurang dengan waktu yang sesingkat itu), kamipun harus menyudahi petualangan hari itu dan kembali ke Jakarta. Untungnya perjalanan pulang kali ini dimanjakan dengan pemandangan bibir pantai yang indah, dimana air laut terlihat biru dan pasir-pasirnya terlihat putih dari dalam bis yang membawa saya pulang. Dan perjalanan pulang tidak selancar saat kami berangkat karena butuh waktu sekitar lima jam untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan yang cukup menyenangkan dengan konsep wisata keluarga. Walaupun setelah itu badan saya rasanya remuk dan mata ngantuk. Dan akhir perjalanan ini ditutup dengan cerita yang kurang enak bagi saya karena saya harus mencucikan baju pacar saya (dan baju saya juga) yang basah kena air laut. :(

Kamis, 16 Juni 2011

Saya Berbehel Maka Saya Keren

Selain BB, apa tren terbaru saat ini? Android? Ipad? Hmm..bisa dibilang begitu. Jika dibilang tren, teknologi memang selalu menjadi tren karena pada dasarnya terjadi kemajuan dari masa ke masa. Lalu tren apalagi yang sedang in saat ini?

Mungkin orang-orang tak asing lagi dengan behel. Inilah kawat gigi dengan bantalan karet yang warna-warni. Inilah tren yang sedang in saat ini. Behel bukan lagi menjadi sebuah alat yang berguna untuk memperbaiki kesehatan atau estetika di mulut dan gigi, tetapi juga menjadi penentu status sosial. Lo gaul, maka lo berbehel.

Sampai-sampai ada definisi 3B untuk anak gaul, behe, BB, dan belah tengah. Entah dari mana datangnya guyonan itu. Tapi yang pasti, behel pada zaman sekarang menentukan status sosial.

Pernah suatu kali saya bertanya pada seorang teman yang memakai behel, apa alasannya memakai behel. Ia berkata nggak kenapa-napa, Cuma pengan. Memang pada saat itu, behel sedang booming karena memang selain fungsi kesehatannya, behel juga berfungsi sebagai aksesoris. Dan memang yang saya lihat saat itu giginya baik-baik saja. Konyolnya lagi, teman saya rela untuk bersakit-sakitan dengan makan bubur dan sariawan demi mendapatkan aksesoris cantik yang menempel di gigi.

Lain lagi dengan teman saya yang lain. Behel baginya mungkin berfungsi sebagai status sosial. Ia sengaja membeli behel aksesoris yang dijual di sebuah online shop dengan harga Rp 25.000,00 untuk bisa terlihat dirinya berbehel. Parahnya lagi, dia mengaku membehel giginya di seorang dokter gigi. Padahal behel yang dipakainya adalah behel aksesoris yang bisa dipasang-copot sesukanya dan tidak memiliki fungsi kesehatan.betapa behel telah berubah fungsinya sebagai barang yang memiliki gengsi tinggi dan menunjukkan status sosial serta tingkat “kegaulan” seseorang.

Maka tak heran bila saat ini tukang gigi yang ada di pinggir jalan pun sangat laris dengan behelnya. Entah mereka tahu tentang ortho ataupun tidak. Yang mereka tahu Cuma sekarang semakin banyak orang yang memakai behel. Dari artis sampe baby sitter pun memakai behel. Dan itu merupakan ladang uang bagi mereka. Lucunya lagi, yang menjadi pasiennya pun kadang tidak memperhatikan masalah kesehatan dan kebersihannya. Yang mereka tahu Cuma yang penting terlihat berbehel. Ironisnya lagi banyak orang yang membeli behel bekas pakai orang dari shop online dan dipasang di tukang gigi agar mereka terlihat “gaul”.

Maka sekarang definisi gaul atau bahkan cantik/ganteng telah bergeser. Dan behel adalah salah satu hal yang membuat penilaian seseorang terhadap status sosial dan standar hidup menjadi naik walaupun fungsi utamanya dipinggirkan entah kemana. 

Ada Tuhan di Dalam Hatimu

Manusia yang berdoa tanpa disertai usaha adalah orang yang bodoh dan mereka yang berusaha tanpa disertai dengan doa adalah orang sombong.

Manusia pada hakikatnya tidak bisa “mandiri” dari Tuhan. Apapun yang kita lakukan pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Yakinilah itu. Bahwa manusia sesungguhnya tidak bisa berdiri di atas kesombongannya. Karena pada akhirnya ada andil Tuhan dalam setiap langkah hidup yang kita tempuh.

Banyak orang yang menamakan dirinya atheis. Bahkan dengan bangga mengatakan bahwa mereka tidak percaya Tuhan. Apalagi dengan menggunakan alasan-alasan tertentu untuk meniadakan Tuhan dari hidup mereka. Saya menyebutnya, mereka menutupi kebodohannya secara halus. Bahwa mereka sebenernya mengetahui adanya Tuhan namun mereka tidak mengakuinya. Namun, kemanakah mereka saat sebuah ujian berat menderanya? Mampukah mereka untuk masih tetap membusungkan dada dan mendongakkan kepala bahwa mereka sanggup untuk menghadapinya. Ataukah pada akhirnya tertunduk malu dan meluruhkan kesombongannya karena dengan siapa lagi mereka memohon sebuah mukjizat?

Tuhan masuk melalui ruang-ruang di hati kita. Bekerja dalam tataran sugesti dan keyakinan. Tuhan tidak bekerja secara nyata tapi kita bisa menyatakan bahwa segala yang ia ciptakan adalah nyata. Saya pernah berkata kepada seorang teman agar beribadah dan berdoalah sebelum melakukan suatu hal namun ia menolaknya. Katanya tak ada gunanya. Saya Cuma bilang, bagi saya hal itu mensugesti dan selalu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Dan setelah sekian lama, ia tertimpa musibah yang besar, dan yang bisa ia lakukan lagi-lagi adalah menundukkan kesombongannya untuk luruh di hadapan Tuhan. Mencari penyelesaian masalah dan mukjizat. Karena pada dasarnya, semua hal yang kita lakukan adalah atas andil Tuhan. Yakinilah..

Ada masalah yang kita mungkin tidak tahu jalan keluarnya,tangan Tuhan akan bekerja di situ. Yang bisa kita lakukan adalah menundukkan kesombongan dan berdoa.

Rabu, 01 Juni 2011

Saya Sarjana (part 2)

Saya Sarjana..
Saya Wisudawan..
Tapi sayang tak pernah ada kata selamat darinya. Semuanya kosong setelah sekian lama kami memang membisu. Entah karena keadaan atau kesalahan. Aku tak tahu bagaimana isi hatinya. Apakah dia bangga karena saya telah berhasil menjadi sarjana. Atau justru dia merasa kalah karena saya bisa memenangkan keadaan. Membolak-balik apa yang ia katakan.

Dia hanya datang saat perayaan graduasi. Entah karena terpaksa atau karena memang bangga saya telah menjadi sarjana. Entahlah. Saya tak pernah tahu isi hatinya. Tak pernah bisa menerka lagi di saat semuanya terasa renggang. Entah masih ada kontak batin atau tidak. Entah dia senang seperti yang saya rasakan atau tidak. Saya tak pernah tahu..
officially I'm a bachelor degree

Yang pasti saya telah lulus dan menjadi sarjana. Bahkan tanpa kekuatan doanya sama sekali. Jangankan itu, ucapan semangat pun tak pernah ada. Bahkan sapaan pun tak pernah saya dapat. Sedih rasanya, dia bukan orang yg ada dalam list "must called" setelah saya ditetapkan lulus dan menyandang gelar Sarjana Ilmu Komunikasi. Mau bagaimana lagi, bahkan saya tak tahu nomor hpnya. Mungkin ia tak mau bicara lagi dengan saya. Entahlah. Tapi yang pasti saya sangat sedih. Gelar sarjana ini untuknya. untuk sebuah pembuktian bahwa kesuksesan seseorang diperoleh karena usahanya sendiri. Saya tidak ingin membuatnya kalah. Tapi saya hanya ingin membuat banyak orang bangga dengan apa yang saya peroleh..

Sabtu, 30 April 2011

Saya Sarjana (part 1)

Selasa, 26 Selasa 2011
Saya lulus. Rasanya seperti mimpi. Sudah ada tambahan nama di belakang nama saya. Dewi Ratnasari, S.I.Kom. Rasanya sudah cocok kalo ditulis di kartu nama atau bahkan undangan-undangan pernikahan (lho??). Yah yang pasti gelar itu sangat dinantikan bukan hanya buat saya tapi juga buat semua teman-teman saya yang masih berjuang untuk mencapai tahap terakhir, seperti saya.

Dewi Ratnasari, S.I.Kom.
Lulus bukan perkara yang mudah buat saya. Entah buat orang lain. Tapi yang pasti kelulusan ini merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Rasanya segala peluh dan keluh yang tak terbayar dengan apapun itu hilang sudah ketika yudisium dan saya dinyatakan lulus. Bayangkan saja, untuk lulus menjadi sarjana ilmu komunikasi saja saya harus melewati 10 KALI SIDANG. 10 KALI SIDANG. Mungkin orang-orang tak ada yang sebanyak saya. Bisa dibayangkan betapa lelahnya melakukan 1 kali sidang job training cetak, 1 kali sidang job training elektronik, 5 kali sidang usmas, 2 kali sidang kompre, dan 1 kali sidang skripsi. Rasanya jika saya harus mengulangnya mungkin saya sudah angkat tangan karena tak sanggup. Entah kekuatan dan motivasi yang mendorong saya sehingga bisa melewati semuanya.

Saat-saat terberat adalah saat menghadapi kegagalan. Bayangkan saya harus 5 kali sidang usmas yang menurut saya hanya buang-buang waktu dan 2 kali sidang kompre. Masalah kegagalan inilah yang selalu membuat saya down. Bohong besar kalo saya tidak down, walaupun pada kenyataannya saya bisa menutupi itu.

Keringat dan air mata mengiringi skripsi saya. Dari gagalnya sidang ke sidang, masalah keluarga yang sangat berat, harus pintar membagi waktu karena saya mengerjakan skripsi sambil bekerja, dosen pembimbing yang cuti karena mengerjakan desertasi, bahkan di akhir perjalanan saya pun masih terjegal dengan kegagalan sidang. Rasanya capek menghadapi semua itu. Hal yang paling sulit adalah ketika down dan bagaimana caranya untuk membangkitkan semangat. Dan waktu itu saya bisa meakukan semuanya di antara kegagalan-kegagalan itu. It's amazing..

Orang-orang di sekitar saya adalah motivator saya. Mereka mungkin geleng-geleng kepala ketika saya gagal lagi. Bahkan mungkin was-was takut saya stres. Ibu saya saja sampai panik takut saya benar-benar stres lalu gila gara-gara nggak lulus-lulus. Separah itukah?

Tapi setelah dinyatakan lulus rasanya beban berat yang ada di pundak saya hilang seketika. Nafas jadi lega, hidup tanpa beban (walaupun sebenarnya masih ada beban revisi tapi mungkin tak akan seberat saat skripsi). Malam itu juga saya merasa hidup saya sangat lega dan ringan. Beban berat yang dipanggul hilang sudah. Semua pengorbanan rasanya tak sia-sia. Apalagi nilai skripsi saya adalah A. Sebuah nilai yang sempurna untuk pengorbanan yang rasanya tak dapat diukur oleh apapun.

Mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik harus melewati jalan yang terjal. Dan semuanya itu akhirnya indah pada waktunya.. :)

Minggu, 24 April 2011

Dia Ibuku..

Tak ada yang menyangka apa yang ada di balik tubuh mungilnya. Tingginya 162cm dan beratnya hanya 39kg. Untuk seorang ibu-ibu mungkin dia adalah orang yang mungil bahkan cenderung “ringkih”. Tapi ternyata tidak. “Kurus itu belum tentu penyakitan dan gemuk itu belum berarti sehat” begitu katanya. Toh dia masih kuat setiap hari mengayuh sepeda ke stasiun-pasar-rumah sambil membawa barang dagangan.

Aku tak tahu sama sekali ia lulusan apa. Mungkin SD. Yang pasti katanya ia hidup susah pada zaman dulu. Nggak punya uang buat sekolah. Cuma yang aku tahu, ketika masa mudanya ia sering berganti-ganti model rambut dari lurus ke kribo. Entah uang dari mana. “Aku dari kecil udah nyari duit. Kalo dapet duit buat ngerubah model rambut biar ngikutin tren.”

Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi rasanya pemikirannya tentang masa depan tak kalah dengan mereka yang ada title “S” di belakang namanya. Katanya “Biarpun lulusan SD tapi pemikiran masa depan nggak boleh kalah sama yang sarjana”. Hobinya pun membaca koran. Mungkin mahasiswa jurnalistik pun tak akan serajin dirinya. Koran bekas kiloan yang belum terjual pun terkadang bisa dibacanya. Sampai-sampai dia tahu perkembangan kasus Marsinah, walau tak jarang kecintaannya terhadap membaca koran,  membuatnya ketakutan sendiri sama berita-berita yang dituliskan sekarang.

Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi ia tak mau anak-anaknya hanya lulus SD. Harus sarjana, minimal. Begitu katanya. Maka ia pun dengan susah payah mencari uang buat membiayai anak-anaknya. Dari bisnis besar-besaran yang nilainya puluhan juta hingga memungut tali rafia yang katanya “Lumayan, kalo terkumpul satu gulung bisa dijual 500 perak. Bisa buat jajan kan?”. Ia bahkan merelakan untuk tidak membeli barang-barang mewah demi bisa menyekolahkan anaknya. Katanya buat apa susah-susah cari uang kalo nggak buat anak.

Dia sangat menghargai uang, berapapun itu. Makanya ia tak pernah mengajarkan untuk berhutang. Apalagi melupakan hutang. Katanya uang itu sangat susah dicari. Makanya dia tak pernah menyiakan segulung tali rafia yang Cuma berharga 500 perak.

Walaupun menurutnya dia itu bodoh, tak tahu apa itu SKS bahkan skripsi, tapi ia sangat pintar dalam memanajemen uang. Entah dikemanakan dan dibagaimanakan uang-uang itu. Di saat orang-orang kesulitan uang, ia pun masih punya sejumlah investasi yang suatu saat bisa saja dipakainya.

Dia berusaha keras untuk tegar ketika masalah besar menghantamnya. Mencoba setiap hari menghibur anaknya agar tidak stres meskipun sesungguhnya dia sangat stres dan kecewa dengan bagian hidupnya yang satu itu. Tapi ia tetap tegar. Kalo kita stres, nggak bisa ngapa-ngapain, nanti nggak jadi ‘orang’, begitu katanya.

Dan walaupun dengan sejuta kekurangan yang dimilikinya, kelebihannya menimbun segala kekurangan itu. Karena itulah sampai saat ini aku masih berbakti dan tak akan pernah mengecewakannya.  
Jatinangor, 25 April 2011

Hidup Itu Indah dengan Cara Kita Sendiri

Pernahkan kalian bayangkan sebuah keluarga ideal? Ayah, ibu, dan adik-adik yang rukun dalam satu jalinan keluarga. Ayah yang mencari nafkah, ibu mengurusi rumah tangga, adik-adik yang lucu dan di setiap hari libur kalian pergi bersama ke tempat rekreasi. Keluarga yang digambarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia yang mungkin diinginkan semua anak-anak.

Lalu bagaimana jika yang ada bukanlah keluarga yang ideal? Ayah yang bercerai dengan ibu. Ayah yang selingkuh. Ibu yang justru mencari uang. Atau bahkan tak ada kedamaian  dan kehangatan dalam keluarga kalian. Lalu siapa yang akan disalahkan? Ayahkah? Ibukah? Atau justru Tuhan?

Siapa yang menginginkan keadaan seperti ini? semuanya tidak sempurna. Bahkan inilah yang disebut hidup yang Tuhan ciptakan sesempurna mungkin untuk kita. Harus kah kita meratapi keadaan?

Life must go on. Apapun yang terjadi. Bahkan di antara ketidaksempurnaan hidup kita. Harus bersyukur dengan ketidaksempurnaan keluarga walaupun apa yang  kita inginkan sebenarnya adalah sesuatu yang sempurna secara ideal.

Biarpun tidak ada ayah yang menafkahi keluarga. Atau ibu yang waktunya terlalu singkat untuk kita karena harus berperan ganda, atau bahkan ketika seorang ayah tak mau lagi mengakuimu sebagai anak, semuanya harus disyukuri. Bukan keadaan ideal yang membuat kita sempurna. Tapi bagaimana kita membuat semua yang telah berjalan secara tidak sempurna itu menjadi sempurna.

Tak ada yang perlu disesali atas ketidaksempurnaan. Toh, Tuhan memberi semua ini bukan tanpa alasan. Dia pikir kita kuat dan Dia-lah yang menjadikan kita kuat atas ketidaksempurnaan yang kita miliki. Dia berpikir bahwa kita itu kreatif, akan sanggup membuat hidup yang tidak sempurna itu menjadi sempurna, dengan cara kita tentunya.

Meski tidak ada ayah yang setiap hari menyapamu ketika kamu berada di rumah padahal setiap hari ia melihatmu, kamu tetap harus bersyukur karena masih ada pelukan ibu yang bisa menghangatkanmu dan meredam sedihmu. Meski tidak ada ayah yang menelponmu setiap hari untuk menanyakan apa kabarmua, kamu tetap harus bersyukur karena masih ada ibu yang menanyakanmu apakah kamu sudah makan, setiap hari. meski tidak ada ayah yang menjadi pelindungmu, kamu juga tetap harus bersyukur karena masih ada ibu yang selalu peduli denganmu.

Dan di setiap langkah apapun yang terjadi dengan kita, kamu tetap harus bersyukur karena sesungguhnya Tuhan telah memberikan hidup yang begitu sempurna untuk kita. Hanya kita yang tahu bagaimana untuk membuatnya benar-benar sempurna.
Jatinangor, 22 April 2011


Minggu, 13 Februari 2011

Stop publicity stunt for promoting a film

Di suatu pagi, saya bangun sekitar pukul 06.30. Seperti pagi-pagi biasanya, begitu bangun pagi saya langsung menyalakan televisi dan menonton infotainment di sebuah stasiun televisi swasta. Begitu infotainment itu dimulai, muncullah ringkasan-ringkasan gosip yang akan ditayangkan(Ya ampun, keliatan banget ya saya suka nonton gosip di pagi hari). Sambil setegah nyawa karena masih merem melek, saya mendengarkan ringkasan gosip itu. Saya yang biasanya hanya dalam hitungan menit langsung merem lagi malah terpaku pada salah satu gosip “Bella Saphira berseteru dengan Andi Soraya di lokasi syuting karena berebut peran utama”. Tadinya saya biasa saja, tapi saya jadi ingat sebuah banner di bioskop 21 Jatos. Banner itu adalah banner film “Arisan Brondong” yang juga dibintangi oleh Bella Saphira dan Andi Soraya.
Kemudian saya (dengan niatnya) menunggu sampai gosip itu ditayangkan dan menyimaknya. Ya ampun, ternyata setelah didenger-denger (karena saat itu mata saya masih tak kuat melek alias ngantuk makanya saya cuma bisa dengerin) gosipnya sepele banget. Gosip sepele yang dibesar-besarkan, itu menurut saya. Toh Bella Saphira juga menanggapinya biasa aja sebagai suatu hal yang biasa kalo ada perseteruan di lokasi syuting.
Saya pun membatin, ah lagi-lagi cuma publicity stunt buat mempromosikan sebuah film. “Publicity is a planned event designed to attract the attention to the organizers or their cause. Publicity stunts can be professionally organized or set up by amateur” begitu kata wikipedia.org.
Yah, tujuannya sih apalagi kalo bukan untuk menaikkan popularitas atau ketenaran tuh film. Intinya mah mau menciptakan pro-kontra biar masyarakat penasaran. Saya jadi berpikir, ternyata banyak film di Indonesia yang berpromosi dengan cara publicity stunt. Sedikit di antaranya:
1. Dewi Persik vs Andi Soraya yang berseteru hanya karena Andi Soraya mengejek pakaian Dewi Perssik saat syuting yang berbuntut pada saling ejek di media. Kasus yang diduga bentuk promosi film “Kutunggu Jandamu”ini berakhir bahagia dan mereka saling bermaafan.
2. Saiful Jamil vs Kiki Fatmala yang berseteru karena merasa dilecehkan Saiful Jamil yang melakukan perbuatan tidak senonoh waktu syuting. Kuat dugaan isu ini digunakan agar film “Pijat Atas Tekan Bawah” yang mereka bintangi jadi sorotan karena sehari sebelum launching film itu mereka berdamai dengan bersalaman di depan publik.
3. Luna Maya vs Aura Kasih yang digosipkan berebut Ariel Peterpan. Aura Kasih diduga sebagai orang ketiga di tengah hubungan Luna Maya-Ariel yang berbuntut pada marahnya Luna Maya di hadapan wartawan. Peristiwa ini diduga bentuk promosi film “Asmara Dua Diana” yang dibintangi Luna Maya dan Aura Kasih. Kasus itu pun menguap dengan sendirinya.
Melihat bentuk promosi itu saya jadi miris kok para kreator film pada mempromosikan filmnya dengan cara seperti itu. Padahal, kalo menurut seminar distribusi film yang pernah saya ikuti (hehehe, ternyata saya pernah mengiikuti seminar film yang berbobot juga), biaya promosi film itu seharusnya lebih besar daripada biaya produksi. Yah, minimal sama lah biayanya. Tapi kalo pake publicity stunt kan murah meriah. Tinggal bikin gosip (dan biasanya gosipnya aneh dan keliatan dibuat-buat)trus di blow-up aja di media.
Saiful Jamil & Kiki Fatmala berdamai (Doc: Nova)
Tapi setelah dipikir-pikir lebih dalam, film-film yang pake publicity stunt bisa diliat sendiri lah kualitas filmnya kayak gimana. Makanya nggak heran kalo mereka pake cara yang ngga elegan itu buat promosi filmnya.
Yah, kita sebagai calon-calon sineas Indonesia (Amin Ya Allah) yang udah pernah belajar sinematografi dan tetek bengeknya itu janganlah mempromosikan film pake cara-cara yang nggak elegan seperti ini. Pikirkanlah matang-matang proses promosi film yang elegan. Saya tahu, pasti kita semua bisa jadi sineas yang hebat walaupun cuma dalam skala kecil.
Hidup sineas Indonesia yang berkualitas!!!