Sabtu, 16 Juli 2011

Gojeg, Harmonisasi Suara di Antara Pukulan Lesung

Tuk..tak..tuktaktuktaktuktak...tuktaktuktaktuktaktuktak..


Jangan dikira itu suara sepatu kuda ya. Tapi itu adalah ilustrasi dari suara gojeg lesung. Hmm..apa kira-kira gojeg lesung ini ya?


Masih banyakkah orang yang sampai saat ini mengenal kesenian gojeg lesung? Mungkin hanya hitungan jari jumlah orang-orang yang masih tahu dan mengenal kesenian yang satu ini. Bahkan mungkin saja yang tahu hanya dari kalangan mereka yang memang sudah sepuh.


Gojeg lesung adalah tradisi menabuh lesung yang dilakukan oleh beberapa orang sehingga membentuk suatu irama dan nada yang enak dan bisa dinikmati. Gojeg lesung ini biasanya dimainkan pada saat panen atau sebelum acara mantu pertama. Di daerah saya sendiri (Kutoarjo, Kab. Purworejo) tradisi ini biasanya dimainkan beberapa hari sebelum seseorang punya hajatan menikahkan untuk yang pertama kalinya atau mantu pertama.
suasana gojeg lesung
Gojeg berasal dari bahasa jawa yaitu gojegan yang berarti bercanda. Mungkin filosofi dari tradisi ini adalah menabuh lesung bersama-sama sambil bercanda untuk mengakrabkan satu sama lain orang-orang. Selain itu, suara musik yang dihasilkan dari lesung pun sangat meriah seperti halnya sebuah candaan. Ada mitos lain yang tersimpan dari tradisi ini. Kata ibu saya, orang-orang zaman dahulu mengadakan gojeg lesung sebelum mantu agar telinga anak-anak mereka tidak budeg. Entah mengapa mitos ini yang beredar. Saya memahami mungkin saja gojeg lesung dilakukan agar kelak ketika anak mereka telah menikah maka tidak akan mbudeg informasi yang berarti kelak diharapkan sang anak bisa tetap peka terhadap keadaan.


Gojeg lesung biasanyua diikuti oleh 5-8 orang dengan masing-masing memiliki nada pukulan sendiri di tempat yang berbeda-beda pada lesung. Tradisi ini biasanya diikuti oleh berbagai usia. Tua muda semuanya bercampur menjadi satu memukul lesung untuk mendapatkan bunyi-bunyian yang enak didengar.

Alat yang digunakan sederhana, hanya beberapa alu dan sebuah lesung. Lesung berasal dari kayu panjang lebih tepatnya batang pohon yang memiliki beberapa lubang sehingga bisa menghasilkan bunyi.
Lesung dan alu untuk gojeg
Tradisi ini semakin lama semakin jarang kita temui, bahkan di desa-desa sekalipun. Gojeg yang biasanya digunakan untuk ngayu pitu saat menjelang pernikahan kini diganti dengan acara pengajian. Sudah sangat jarang orang yang melakukan gojeg, apalagi alatnya pun kini semakin susah didapatkan.


Jika melihat atau menemui tradisi ini, sesekali cobalah untuk ikut memukul. Kelihatannya memang mudah namun ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Salah tempo atau ketukan sedikit bisa-bisa membubarkan  harmoni musiknya. Maka tak jarang banyak gelak tawa yang tercipta ketika sang pemain sudah lelah dan tak sanggup mengimbangi yang lainnya. Jadi saja si irama lari kesana-kemari.


Semoga saja masih banyak orang yang melestarikan tradisi ini. Ya, walaupun tradisi yang sederhana tapi tetap saja harus dilestarikan dan dijaga keberadaannya. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Kamis, 14 Juli 2011

Dimana Seharusnya Kita Menempatkan Rasa Malu?

Sering sekali ketika datang ke undangan baik itu rapat, pertemuan, atau pernikahan, saya melihat segerombolan ibu-ibu yang datang dan mengambil kursi tidak di deretan yang paling depan. "Malu ah depan sendiri," ujarnya.

Lain lagi ketika saya berbelanja dengan seorang teman, ketika saya tawari hanya masuk toko tersebut, melihat-lihat, atau bahkan sekedar mencoba barang-barangnya ia pun berkata "Malu ah kalo nggak beli."


Atau lain lagi dengan seorang sarjana yang ditawari untuk membuka usaha dagang karena memang lapangan kerja yang sedikit. "Malu ah, sarjana masak jualan."

Dimana kita seharusnya menempatkan rasa malu?

Baiklah, mari kita lihat dari asal katanya terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online kata "malu" berarti 1. merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb); 2. segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb; 3. kurang senang (rendah, hina, dsb). Jika melihat dari arti katanya, kata "malu" seharusnya kita gunakan apabila kita telah melakukan sebuah kesalahan.

Namun, di zaman sekarang justru orang-orang, entah bisa disebut dengan salah kaprah atau salah menempatkan, kata "malu" dalam suatu konteks. Seperti contoh pertama yang saya sebutkan tadi. Sekarang banyak sekali orang-orang yang enggan duduk di depan karena malu. Apa yang membuat mereka malu? Jika mereka telah melakukan kesalahan bolehlah mereka malu. Mungkin bukan "malu" yang tepat bagi mereka, tetapi "minder" itu lebih tepat dipasangkan dengan keadaan yang seperti itu.

Dan di contoh yang kedua kenapa orang-orang harus malu ketika hanya window shopping? Tak ada salahnya dengan keluar masuk toko dan hanya melihat atau sekedar mencoba barang yang dipajang di etalase karena pemilik toko pasti memajangnya untuk konsumen. Kita seharusnya malu kalau mencuri barang di toko itu. Kalau kita jujur, masuk toko hanya sekedar melihat dan keluar lagi dengan tangan kosong karena memang tak ada barang yang cocok dibeli, kenapa harus malu?


Contoh ketiga sering sekali kita jumpai. Banyak orang berpendidikan tinggi tapi mereka malu ketika ditawari untuk membuka usaha dengan cara jualan. Malu disini adalah pengganti kata gengsi. Mereka justru seharusnya malu kalau menambah beban pengangguran, dan seharusnya tambah malu lagi ketika menaikkan angka kriminalitas dengan cara berbuat jahat misalnya mencuri atau menipu. Rasa "malu" yang mereka bawa justru akan terus membebani mereka dan membuat mereka tidak berpikiran maju.

Dan sekarang lihatlah banyak orang yang salah menempatkan rasa malu. Lihatlah banyak orang korupsi tetapi mereka tidak malu melakukannya, malahan bangga. Atau ada orang atau sebuah keluarga yang bangga dengan harta hasil KKN. Atau ada orang yang bangga sebagai pegawai negeri dan punya kedudukan tinggi, namun untuk masuk PNS saja dia menyuap sekian juta. Atau orang yang bangga belanja kesana kemari tapi duitnya hutang. Yang seperti ini yang harusnya malu. Namun justru sekarang orang-orang yang seperti inilah yang tidak lagi punya rasa malu.

"Akan susah sebuah bangsa jika penduduknya salah menempatkan rasa malu" 

Keadaan yang seharusnya dihadapi tidak dengan rasa malu malah sebaliknya. Malu karena mereka minder. Apa yang membuat malu jika memang kita bisa? Mungkin banyak orang di negeri ini telah mengalami degradasi rasa percaya diri atau pede. Mereka hanya pede jika di depan kamera. Tetapi untuk memasyarakatkan diri dan pikiran mereka justru tidak pede. 

Yang lebih miris adalah jika rasa malu itu hilang dan tergantikan dengan rasa "tak lagi punya malu" ketika seseorang berbangga dengan kesalahannya, dengan apa yang dimiliki padahal itu bukan haknya, dengan kebodohannya. Seharusnya yang seperti ini yang bisa kita sebut dengan rasa malu. Bukan malah bangga dengan kesalahan.

Jangan menyepelekan rasa malu, karena rasa inilah yang akan membuat kita belajar. Bangsa ini tak akan bisa maju jika masih belum bisa menempatkan rasa malu dengan tepat. Dan jika hal ini terus menerus dibiarkan maka sebuah bangsa justru akan tumbuh menjadi bangsa yang minder dan tak akan pernah belajar dari kesalahan. 

Seharusnya kita malu jika berbuat kesalahan, paling tidak malu sama Tuhan dan hati nurani kita sendiri. 

Minggu, 10 Juli 2011

Terima Kasih Tuhan Atas Lelaki yang Tidak Sempurna (part 2)

Banyak kriteria yang harus dilewati untuk menjadi pacar saya. Saya orang yang cukup selektif dalam memilih pacar. Ini urusan hati dan masa depan bung! Jadi saya harus benar-benar selektif. Saya bukan orang yang main-main untuk urusan pacaran. Secara fisik, saya tidak pernah memberi patokan untuk pria harus yang setampan malaikat. Tapi secara hati, dia harus berjiwa malaikat. :)

Pacar saya tidak ganteng, tapi dia hebat. Dialah yang berhasil untuk melewati kriteria yang saya punyai. Tidak semuanya memang tapi saya melihat akan bisa terlewati semua kriteria itu di masa depan.

Saya bangga dengan pacar saya. Biar orang berkata apa. Tapi dia pria yang hebat, yah walaupun terkadang suka kekanak-kanakan. Tapi dia bisa mengakomodir sifat-sifat saya dan memberikan rasa nyaman pada saya. Dialah pria yang memberikan keseriusan pada saya dan semoga akan selalu seperti itu, di saat banyak pria di luar sana yang sangat takut dan menunda sebuah komitmen. Mungkin saya orang yang sangat beruntung bertemu dan memilikinya.

Saya tidak pernah merahasiakan status saya. Yes, i'm in relationship. Setiap bertemu dengan orang baru saya selalu bangga dengan status saya, di saat banyak teman saya yang sering merahasiakan statusnya dengan alasan untuk flirting  dengan orang lain. Saya tak ada lagi alasan untuk flirting. Itu yang saya tanamkan dalam diri saya karena saya ragu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dia. Saya bangga untuk memperkenalkan pacar saya, dengan pekerjaannya, dengan kegiatan sehari-harinya, dengan semua yang dia lakukan pada saya, dan dengan karya-karyanya.

Dia yang juga CEO Trackpacking, telah berhasil track-in di hati saya walaupun dia sama sekali tidak bisa membuat peta itu dalam sebuah web internet :p dan mungkin dia juga yang menularkan virus menggombal itu pada saya. :D

Dia lelaki yang berbicara "nanti gimana" bukan "gimana nanti" karena sesungguhnya saya adalah seorang perempuan, yang secara kodrati memang butuh sebuah kemapanan untuk masa depan. Ini pula yang mungkin dialami oleh perempuan-perempuan lainnya di dunia ini. Ini bukan masalah materi tetapi ini adalah masalah kerja keras. Toh, rejeki itu di tangan Tuhan. Tetapi kerja kerasnya yang membuat saya mengacungkan jempol padanya. Dan semoga sayalah yang menjadi cahaya semangat dan pompa inspirasinya untuk terus menghasilkan karya dan kerja keras.

Saya bangga pada dia apapun yang orang katakan tentangnya. Dialah si lelaki hebat itu. Semoga saya bisa menyempurnakan hidupnya, tetap menjadi cahaya semangat dan inspirasi baginya dan semoga Tuhan yang memilih saya untuk mendampingi hidupnya.

hope it'll be everlasting love :)
Dia memang lelaki biasa tetapi dia adalah lelaki yang bisa mencintai dengan cara yang luar biasa. Membangun hidup saya untuk menjadi hampir sempurna. Terima kasih Tuhan atas lelaki yang tidak sempurna yang membuat saya tahu tentang arti kesempurnaan. :)

Terima Kasih Tuhan Atas Lelaki yang Tidak Sempurna (part 1)

Siapa dia yang kurang lebih 2,5 tahun lalu menghampiri saya? Saya tahu? Pastinya tahu sekali. Dia bukan siapa-siapa. Dia orang yang saya kenal sekali. Bahkan dari sebelum saya bertemu lagi dengan dia. 

Dan ketika saya bertemu kembali, tidak ada rasa. Hanya biasa. Entah apa yang ia rasakan. Mungkin sama, mungkin juga berbeda dengan saya. Namun saya tidak pernah membayangkan bahwa akan menjalani hubungan bertahun-tahun dengannya. Hubungan yang tidak biasa. Hubungan yang sangat menguras emosi.

Dia, Kurniawan Aji Saputra, orang yang sangat saya kenal, sebagai teman lama. Dia teman SMP saya. Tidak pernah terbersit dalam hati saya akan berpacaran dengan orang ini, lama dan sangat lama karena dengannya saya melewati masa pacaran yang paling lama. Mungkin saya kemakan omongan dan sumpah serapah saya sendiri bahwa saya tidak akan pernah mau berpacaran dengan teman saya. Tapi sekarang? Nyata-nyata ini teman saya.

Dia datang sekitar tiga tahun yang lalu yang saya tanggapi tidak dengan rasa apa-apa karena saya saat itu tengah menjadi perempuan yang (sok) feminis karena kegagalan cinta yang berkali-kali dan menyebabkan sangat malas untuk berpacaran. Cinta bersemi dari reuni. Pepatah itu mungkin yang bisa menggambarkan darimana hubungan kami berawal. Dari reuni sekolah, SMP lebih tepatnya. Saya tidak tahu, dia yang merancang reuni itu entah karena memang kangen sama teman-teman atau memang (geernya saya) dia mau bertemu saya di acara itu. Entahlah..

Kalo saya flashback ke masa lalau, mungkin saya bukan siapa-siapa di mata dia. Siapa saya waktu SMP? ABG labil nan bandel di kelas yang mungkin justru membuat cowok-cowok pada illfeel. Namun seiring berjalannya waktu, itik buruk rupa bisa menjadi angsa yang sangat cantik. Bahkan ulat bulu yang sangat menjijikkan pun akan menjadi kupu-kupu yang indah. Mungkin dulu dia tidak pernah melihat saya karena saking bandelnya saya di sekolah. Tapi kini saya bisa menaklukan hatinya. :)

bunga pertama dr pacar saya
Terima kasih Tuhan telah memberikan saya pria yang tidak sempurna sehingga saya bisa melihat arti kesempurnaan. Semoga memang dia yang Engkau kirim untuk menyempurnakan hidup saya dan saya akan menjadi wanita yang menyempurnakan hidupnya. (To be continued)


Sabtu, 02 Juli 2011

Carita Punya Cerita

Ini bukan kali pertama saya datang ke Pantai Carita, pantai yang sebenarnya sangat biasa untuk saya. Namun, selalu ada cerita luar biasa dari Carita.

Ini adalah kali kedua saya jalan-jalan ke pantai bersama pacar saya. Dan ini juga kali kedua saya menginjakkan Pantai Carita setelah sebelumnya saya pernah kesana dalam rangka malam keakraban adik kelas di jurusan saya. Perjalanan kali ini merupakan hadiah dari pacar saya karena saya sudah berhasil menjadi sarjana. Hadiah yang menggantikan jalan-jalan ke sebuah pulau dengan pemandangan pantai, karena memang waktunya yang sangat susah dan yang pasti kali ini lebih kekeluargaan dan pastinya murah meriah.

Kali ini saya ke Carita tidak hanya berdua, melainkan satu bisa dengan orang-orang yang baru saya kenal. Lebih tepatnya lagi adalah teman-teman arisan pacar saya (agak aneh memang, pacar saya yang notabene laki-laki tapi doyan arisan, mudah-mudahan dia tidak seperti Sakti :p). Orang-orang yang di dalamnya tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Namun, ada keceriaan sendiri tatkala saya berpiknik bersama orang-orang yang kebanyakan sudah berkeluarga ini. 

Awal perjalanan diisi dengan karaoke bersama di dalam bis, tentunya dengan berbagai macam genre lagu dari pop, campur sari, dangdut, hingga tembang nostalgia. Lalu ada acara kocok doorprize (kalo yang ini jelas arisan banget). Dan singkat cerita kami pun sampai di Carita, lebih tepatnya lagi di Pantai Pasir Putih (walaupun warna pasirnya sebenarnya bukan putih) dengan menempuh waktu kurang lebih tiga jam perjalanan.

Layaknya wisata keluarga pasti diawali dengan acara gelar tikar dan makan bersama. Selanjutnya acara bebas dan saya memilih untuk naik banana boat dengan harga Rp 10.000. Harga yang cukup bersahabat untuk wisata keluarga, mengingat harga banana boat di sebuah pantai yang sebelumnya saya kunjungi bisa empat kali lipat dari harga disini. Sayang momen naik banana boat dan berenang melihat karang-karang di pulau tengah laut (kalo untuk singgah di pulau ini, wisatawan harus nambah Rp 5000) ini tidak diabadikan dengan foto karena pacar saya yang diajak mengabadikan ternyata tidak mau karena saya tahu dia takut air. Sayang sekali sih memang, tapi nggak mengurangi keasikan tim banana boat kami buat bersenang-senang. Saking ketagihannya buat diceburin di tengah laut, malahan ada seorang anggota tim yang menceburkan diri dan ketinggalan di tengah laut. Agak nggak kompak sih ato mungkin dia memang ketagihan diceburin ke tengah laut, haha.

Yang namanya wisata keluarga pastilah harus murah. Selesai main banana boat, saya menyewa sebuah ban besar hanya dengan harga Rp 5000 untuk bermain sepuasnya di pantai. Ya itung-itung menyegarkan diri dengan bermain sama ombak dan menikmati panasnya matahari. Walaupun harus dengan resiko badan dan muka saya yang hitam. Tapi tak apalah yang penting eksotis pembelaan diri :p).

Setelah sekitar tiga jam bermain di pantai (walaupun sebenarnya masih kurang dengan waktu yang sesingkat itu), kamipun harus menyudahi petualangan hari itu dan kembali ke Jakarta. Untungnya perjalanan pulang kali ini dimanjakan dengan pemandangan bibir pantai yang indah, dimana air laut terlihat biru dan pasir-pasirnya terlihat putih dari dalam bis yang membawa saya pulang. Dan perjalanan pulang tidak selancar saat kami berangkat karena butuh waktu sekitar lima jam untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan yang cukup menyenangkan dengan konsep wisata keluarga. Walaupun setelah itu badan saya rasanya remuk dan mata ngantuk. Dan akhir perjalanan ini ditutup dengan cerita yang kurang enak bagi saya karena saya harus mencucikan baju pacar saya (dan baju saya juga) yang basah kena air laut. :(