Beberapa pekan lalu, saya menyerah dengan virus. Tak hanya virus, saya juga
menyerah dengan gaya hidup saya. Harus mengakui kalo gaya hidup saya terlalu
‘liar’ beberapa bulan ini. Saya tak pernah menyangka kalo saya akan terpakar
dengan selang infus di tangan selama seminggu di rumah sakit. Selama seminggu
itu saya harus merasakan penderitaan dan ujian bertubi-tubi. Bayangkan, tangan
bengkak< ke kamar mandi saja harus dibantu, makan pengennya dimuntahin
melulu, tiap hari disuntik dan ambil darah ditambah lagi penyakit susah kencing
dan sariawan yang mengganas di area amandel.
Tapi saya harus lebih bersyukur karena memang
masih banyak yang harus saya syukuri. Kalo tidak sakit, mungkin saya masih
terbelenggu dalam kebiasaan makan yang berantakan. Kalo saya tidak sakit,
mungkin badan saya akan lebih ‘mengamuk’ karena dipaksa terus bekerja dengan
kondisi yang collapse dan masih banyak lagi. Kalo tidak sakit, saya
juga tidak bisa melihat betapa ‘gemati’nya pacar saya merawat saya.
Dan
saya harus lebih beruntung dan bersyukur, karena saya hanya berada satu
minggu dirawat di rumah sakit. Tak terbayangkan mereka-mereka yang harus
tinggal lama di rumah sakit dengan perawatan yang lebih complicated. Yang bisa saya ucapkan hanyalah terberkatilah mereka
dengan segala kekuatan lebih melebihi penyakit mereka. Saya tidak bisa
membayangkan jika dirawat di rumah sakit dengan periode yang lebih lama dari
itu dan konsumsi obat rutin yang sangat banyak. That’s why saya masih harus
lebih bersyukur untuk semuanya.
Dan dari sakit saya bersyukur. Dari sakit saya
menikmati.