Jumat, 08 Juni 2012

Harus Sakit untuk Mensyukuri Nikmat

Beberapa pekan lalu, saya menyerah dengan virus. Tak hanya virus, saya juga menyerah dengan gaya hidup saya. Harus mengakui kalo gaya hidup saya terlalu ‘liar’ beberapa bulan ini. Saya tak pernah menyangka kalo saya akan terpakar dengan selang infus di tangan selama seminggu di rumah sakit. Selama seminggu itu saya harus merasakan penderitaan dan ujian bertubi-tubi. Bayangkan, tangan bengkak< ke kamar mandi saja harus dibantu, makan pengennya dimuntahin melulu, tiap hari disuntik dan ambil darah ditambah lagi penyakit susah kencing dan sariawan yang mengganas di area amandel.

Tapi saya harus lebih bersyukur karena memang masih banyak yang harus saya syukuri. Kalo tidak sakit, mungkin saya masih terbelenggu dalam kebiasaan makan yang berantakan. Kalo saya tidak sakit, mungkin badan saya akan lebih ‘mengamuk’ karena dipaksa terus bekerja dengan kondisi yang collapse  dan masih banyak lagi. Kalo tidak sakit, saya juga tidak bisa melihat betapa ‘gemati’nya pacar saya merawat saya.

Dan  saya harus lebih beruntung dan bersyukur, karena saya hanya berada satu minggu dirawat di rumah sakit. Tak terbayangkan mereka-mereka yang harus tinggal lama di rumah sakit dengan perawatan yang lebih complicated. Yang bisa saya ucapkan hanyalah terberkatilah mereka dengan segala kekuatan lebih melebihi penyakit mereka. Saya tidak bisa membayangkan jika dirawat di rumah sakit dengan periode yang lebih lama dari itu dan konsumsi obat rutin yang sangat banyak. That’s why saya masih harus lebih bersyukur untuk semuanya.

Dan dari sakit saya bersyukur. Dari sakit saya menikmati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar