Tak ada yang menyangka apa yang ada di balik tubuh
mungilnya. Tingginya 162cm dan beratnya hanya 39kg. Untuk seorang ibu-ibu
mungkin dia adalah orang yang mungil bahkan cenderung “ringkih”. Tapi ternyata
tidak. “Kurus itu belum tentu penyakitan dan gemuk itu belum berarti sehat”
begitu katanya. Toh dia masih kuat setiap hari mengayuh sepeda ke
stasiun-pasar-rumah sambil membawa barang dagangan.
Aku tak tahu sama sekali ia lulusan apa. Mungkin SD. Yang pasti
katanya ia hidup susah pada zaman dulu. Nggak punya uang buat sekolah. Cuma yang
aku tahu, ketika masa mudanya ia sering berganti-ganti model rambut dari lurus
ke kribo. Entah uang dari mana. “Aku dari kecil udah nyari duit. Kalo dapet
duit buat ngerubah model rambut biar ngikutin tren.”
Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi rasanya pemikirannya
tentang masa depan tak kalah dengan mereka yang ada title “S” di belakang
namanya. Katanya “Biarpun lulusan SD tapi pemikiran masa depan nggak boleh
kalah sama yang sarjana”. Hobinya pun membaca koran. Mungkin mahasiswa
jurnalistik pun tak akan serajin dirinya. Koran bekas kiloan yang belum terjual
pun terkadang bisa dibacanya. Sampai-sampai dia tahu perkembangan kasus
Marsinah, walau tak jarang kecintaannya terhadap membaca koran, membuatnya ketakutan sendiri sama
berita-berita yang dituliskan sekarang.
Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi ia tak mau
anak-anaknya hanya lulus SD. Harus sarjana, minimal. Begitu katanya. Maka ia
pun dengan susah payah mencari uang buat membiayai anak-anaknya. Dari bisnis
besar-besaran yang nilainya puluhan juta hingga memungut tali rafia yang
katanya “Lumayan, kalo terkumpul satu gulung bisa dijual 500 perak. Bisa buat
jajan kan?”. Ia bahkan merelakan untuk tidak membeli barang-barang mewah demi
bisa menyekolahkan anaknya. Katanya buat apa susah-susah cari uang kalo nggak
buat anak.
Dia sangat menghargai uang, berapapun itu. Makanya ia tak
pernah mengajarkan untuk berhutang. Apalagi melupakan hutang. Katanya uang itu
sangat susah dicari. Makanya dia tak pernah menyiakan segulung tali rafia yang Cuma
berharga 500 perak.
Walaupun menurutnya dia itu bodoh, tak tahu apa itu SKS
bahkan skripsi, tapi ia sangat pintar dalam memanajemen uang. Entah dikemanakan
dan dibagaimanakan uang-uang itu. Di saat orang-orang kesulitan uang, ia pun
masih punya sejumlah investasi yang suatu saat bisa saja dipakainya.
Dia berusaha keras untuk tegar ketika masalah besar
menghantamnya. Mencoba setiap hari menghibur anaknya agar tidak stres meskipun
sesungguhnya dia sangat stres dan kecewa dengan bagian hidupnya yang satu itu. Tapi
ia tetap tegar. Kalo kita stres, nggak bisa ngapa-ngapain, nanti nggak jadi ‘orang’,
begitu katanya.
Dan walaupun dengan sejuta kekurangan yang dimilikinya,
kelebihannya menimbun segala kekurangan itu. Karena itulah sampai saat ini aku
masih berbakti dan tak akan pernah mengecewakannya.
Jatinangor, 25 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar