Minggu, 24 April 2011

Dia Ibuku..

Tak ada yang menyangka apa yang ada di balik tubuh mungilnya. Tingginya 162cm dan beratnya hanya 39kg. Untuk seorang ibu-ibu mungkin dia adalah orang yang mungil bahkan cenderung “ringkih”. Tapi ternyata tidak. “Kurus itu belum tentu penyakitan dan gemuk itu belum berarti sehat” begitu katanya. Toh dia masih kuat setiap hari mengayuh sepeda ke stasiun-pasar-rumah sambil membawa barang dagangan.

Aku tak tahu sama sekali ia lulusan apa. Mungkin SD. Yang pasti katanya ia hidup susah pada zaman dulu. Nggak punya uang buat sekolah. Cuma yang aku tahu, ketika masa mudanya ia sering berganti-ganti model rambut dari lurus ke kribo. Entah uang dari mana. “Aku dari kecil udah nyari duit. Kalo dapet duit buat ngerubah model rambut biar ngikutin tren.”

Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi rasanya pemikirannya tentang masa depan tak kalah dengan mereka yang ada title “S” di belakang namanya. Katanya “Biarpun lulusan SD tapi pemikiran masa depan nggak boleh kalah sama yang sarjana”. Hobinya pun membaca koran. Mungkin mahasiswa jurnalistik pun tak akan serajin dirinya. Koran bekas kiloan yang belum terjual pun terkadang bisa dibacanya. Sampai-sampai dia tahu perkembangan kasus Marsinah, walau tak jarang kecintaannya terhadap membaca koran,  membuatnya ketakutan sendiri sama berita-berita yang dituliskan sekarang.

Biarpun mungkin ia hanya lulusan SD tapi ia tak mau anak-anaknya hanya lulus SD. Harus sarjana, minimal. Begitu katanya. Maka ia pun dengan susah payah mencari uang buat membiayai anak-anaknya. Dari bisnis besar-besaran yang nilainya puluhan juta hingga memungut tali rafia yang katanya “Lumayan, kalo terkumpul satu gulung bisa dijual 500 perak. Bisa buat jajan kan?”. Ia bahkan merelakan untuk tidak membeli barang-barang mewah demi bisa menyekolahkan anaknya. Katanya buat apa susah-susah cari uang kalo nggak buat anak.

Dia sangat menghargai uang, berapapun itu. Makanya ia tak pernah mengajarkan untuk berhutang. Apalagi melupakan hutang. Katanya uang itu sangat susah dicari. Makanya dia tak pernah menyiakan segulung tali rafia yang Cuma berharga 500 perak.

Walaupun menurutnya dia itu bodoh, tak tahu apa itu SKS bahkan skripsi, tapi ia sangat pintar dalam memanajemen uang. Entah dikemanakan dan dibagaimanakan uang-uang itu. Di saat orang-orang kesulitan uang, ia pun masih punya sejumlah investasi yang suatu saat bisa saja dipakainya.

Dia berusaha keras untuk tegar ketika masalah besar menghantamnya. Mencoba setiap hari menghibur anaknya agar tidak stres meskipun sesungguhnya dia sangat stres dan kecewa dengan bagian hidupnya yang satu itu. Tapi ia tetap tegar. Kalo kita stres, nggak bisa ngapa-ngapain, nanti nggak jadi ‘orang’, begitu katanya.

Dan walaupun dengan sejuta kekurangan yang dimilikinya, kelebihannya menimbun segala kekurangan itu. Karena itulah sampai saat ini aku masih berbakti dan tak akan pernah mengecewakannya.  
Jatinangor, 25 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar