Sabtu, 30 April 2011

Saya Sarjana (part 1)

Selasa, 26 Selasa 2011
Saya lulus. Rasanya seperti mimpi. Sudah ada tambahan nama di belakang nama saya. Dewi Ratnasari, S.I.Kom. Rasanya sudah cocok kalo ditulis di kartu nama atau bahkan undangan-undangan pernikahan (lho??). Yah yang pasti gelar itu sangat dinantikan bukan hanya buat saya tapi juga buat semua teman-teman saya yang masih berjuang untuk mencapai tahap terakhir, seperti saya.

Dewi Ratnasari, S.I.Kom.
Lulus bukan perkara yang mudah buat saya. Entah buat orang lain. Tapi yang pasti kelulusan ini merupakan sesuatu yang tak ternilai harganya. Rasanya segala peluh dan keluh yang tak terbayar dengan apapun itu hilang sudah ketika yudisium dan saya dinyatakan lulus. Bayangkan saja, untuk lulus menjadi sarjana ilmu komunikasi saja saya harus melewati 10 KALI SIDANG. 10 KALI SIDANG. Mungkin orang-orang tak ada yang sebanyak saya. Bisa dibayangkan betapa lelahnya melakukan 1 kali sidang job training cetak, 1 kali sidang job training elektronik, 5 kali sidang usmas, 2 kali sidang kompre, dan 1 kali sidang skripsi. Rasanya jika saya harus mengulangnya mungkin saya sudah angkat tangan karena tak sanggup. Entah kekuatan dan motivasi yang mendorong saya sehingga bisa melewati semuanya.

Saat-saat terberat adalah saat menghadapi kegagalan. Bayangkan saya harus 5 kali sidang usmas yang menurut saya hanya buang-buang waktu dan 2 kali sidang kompre. Masalah kegagalan inilah yang selalu membuat saya down. Bohong besar kalo saya tidak down, walaupun pada kenyataannya saya bisa menutupi itu.

Keringat dan air mata mengiringi skripsi saya. Dari gagalnya sidang ke sidang, masalah keluarga yang sangat berat, harus pintar membagi waktu karena saya mengerjakan skripsi sambil bekerja, dosen pembimbing yang cuti karena mengerjakan desertasi, bahkan di akhir perjalanan saya pun masih terjegal dengan kegagalan sidang. Rasanya capek menghadapi semua itu. Hal yang paling sulit adalah ketika down dan bagaimana caranya untuk membangkitkan semangat. Dan waktu itu saya bisa meakukan semuanya di antara kegagalan-kegagalan itu. It's amazing..

Orang-orang di sekitar saya adalah motivator saya. Mereka mungkin geleng-geleng kepala ketika saya gagal lagi. Bahkan mungkin was-was takut saya stres. Ibu saya saja sampai panik takut saya benar-benar stres lalu gila gara-gara nggak lulus-lulus. Separah itukah?

Tapi setelah dinyatakan lulus rasanya beban berat yang ada di pundak saya hilang seketika. Nafas jadi lega, hidup tanpa beban (walaupun sebenarnya masih ada beban revisi tapi mungkin tak akan seberat saat skripsi). Malam itu juga saya merasa hidup saya sangat lega dan ringan. Beban berat yang dipanggul hilang sudah. Semua pengorbanan rasanya tak sia-sia. Apalagi nilai skripsi saya adalah A. Sebuah nilai yang sempurna untuk pengorbanan yang rasanya tak dapat diukur oleh apapun.

Mungkin untuk mendapatkan hasil yang terbaik harus melewati jalan yang terjal. Dan semuanya itu akhirnya indah pada waktunya.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar