Sering sekali ketika datang ke undangan baik itu rapat, pertemuan, atau pernikahan, saya melihat segerombolan ibu-ibu yang datang dan mengambil kursi tidak di deretan yang paling depan. "Malu ah depan sendiri," ujarnya.
Lain lagi ketika saya berbelanja dengan seorang teman, ketika saya tawari hanya masuk toko tersebut, melihat-lihat, atau bahkan sekedar mencoba barang-barangnya ia pun berkata "Malu ah kalo nggak beli."
Atau lain lagi dengan seorang sarjana yang ditawari untuk membuka usaha dagang karena memang lapangan kerja yang sedikit. "Malu ah, sarjana masak jualan."
Atau lain lagi dengan seorang sarjana yang ditawari untuk membuka usaha dagang karena memang lapangan kerja yang sedikit. "Malu ah, sarjana masak jualan."
Dimana kita seharusnya menempatkan rasa malu?
Baiklah, mari kita lihat dari asal katanya terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online kata "malu" berarti 1. merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dsb); 2. segan melakukan sesuatu karena ada rasa hormat, agak takut, dsb; 3. kurang senang (rendah, hina, dsb). Jika melihat dari arti katanya, kata "malu" seharusnya kita gunakan apabila kita telah melakukan sebuah kesalahan.
Namun, di zaman sekarang justru orang-orang, entah bisa disebut dengan salah kaprah atau salah menempatkan, kata "malu" dalam suatu konteks. Seperti contoh pertama yang saya sebutkan tadi. Sekarang banyak sekali orang-orang yang enggan duduk di depan karena malu. Apa yang membuat mereka malu? Jika mereka telah melakukan kesalahan bolehlah mereka malu. Mungkin bukan "malu" yang tepat bagi mereka, tetapi "minder" itu lebih tepat dipasangkan dengan keadaan yang seperti itu.
Dan di contoh yang kedua kenapa orang-orang harus malu ketika hanya window shopping? Tak ada salahnya dengan keluar masuk toko dan hanya melihat atau sekedar mencoba barang yang dipajang di etalase karena pemilik toko pasti memajangnya untuk konsumen. Kita seharusnya malu kalau mencuri barang di toko itu. Kalau kita jujur, masuk toko hanya sekedar melihat dan keluar lagi dengan tangan kosong karena memang tak ada barang yang cocok dibeli, kenapa harus malu?
Contoh ketiga sering sekali kita jumpai. Banyak orang berpendidikan tinggi tapi mereka malu ketika ditawari untuk membuka usaha dengan cara jualan. Malu disini adalah pengganti kata gengsi. Mereka justru seharusnya malu kalau menambah beban pengangguran, dan seharusnya tambah malu lagi ketika menaikkan angka kriminalitas dengan cara berbuat jahat misalnya mencuri atau menipu. Rasa "malu" yang mereka bawa justru akan terus membebani mereka dan membuat mereka tidak berpikiran maju.
Contoh ketiga sering sekali kita jumpai. Banyak orang berpendidikan tinggi tapi mereka malu ketika ditawari untuk membuka usaha dengan cara jualan. Malu disini adalah pengganti kata gengsi. Mereka justru seharusnya malu kalau menambah beban pengangguran, dan seharusnya tambah malu lagi ketika menaikkan angka kriminalitas dengan cara berbuat jahat misalnya mencuri atau menipu. Rasa "malu" yang mereka bawa justru akan terus membebani mereka dan membuat mereka tidak berpikiran maju.
Dan sekarang lihatlah banyak orang yang salah menempatkan rasa malu. Lihatlah banyak orang korupsi tetapi mereka tidak malu melakukannya, malahan bangga. Atau ada orang atau sebuah keluarga yang bangga dengan harta hasil KKN. Atau ada orang yang bangga sebagai pegawai negeri dan punya kedudukan tinggi, namun untuk masuk PNS saja dia menyuap sekian juta. Atau orang yang bangga belanja kesana kemari tapi duitnya hutang. Yang seperti ini yang harusnya malu. Namun justru sekarang orang-orang yang seperti inilah yang tidak lagi punya rasa malu.
"Akan susah sebuah bangsa jika penduduknya salah menempatkan rasa malu"
Keadaan yang seharusnya dihadapi tidak dengan rasa malu malah sebaliknya. Malu karena mereka minder. Apa yang membuat malu jika memang kita bisa? Mungkin banyak orang di negeri ini telah mengalami degradasi rasa percaya diri atau pede. Mereka hanya pede jika di depan kamera. Tetapi untuk memasyarakatkan diri dan pikiran mereka justru tidak pede.
Yang lebih miris adalah jika rasa malu itu hilang dan tergantikan dengan rasa "tak lagi punya malu" ketika seseorang berbangga dengan kesalahannya, dengan apa yang dimiliki padahal itu bukan haknya, dengan kebodohannya. Seharusnya yang seperti ini yang bisa kita sebut dengan rasa malu. Bukan malah bangga dengan kesalahan.
Jangan menyepelekan rasa malu, karena rasa inilah yang akan membuat kita belajar. Bangsa ini tak akan bisa maju jika masih belum bisa menempatkan rasa malu dengan tepat. Dan jika hal ini terus menerus dibiarkan maka sebuah bangsa justru akan tumbuh menjadi bangsa yang minder dan tak akan pernah belajar dari kesalahan.
Seharusnya kita malu jika berbuat kesalahan, paling tidak malu sama Tuhan dan hati nurani kita sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar